17.7.23

Melipat jarak dari balik jendela ---

 



Melipat jarak dari balik jendela
Telah tibakah malam di kotamu? 
Matahari masih bersinar di tempatku 
Ku genggam sedikit kabar darimu layaknya ku genggam rasa percayaku yang rapuh
Ia lebih mudah pecah dari kaca, tetapi setebal tekad dan nyaliku ketika nekat meminta nomor ponselmu malam itu. 
Bisakah kabar yang tetap ku rawat dengan hati-hati -- walau rawan -- menjadi pengganti dirimu di seberang samudera sana? 

Ku ingat teori-teori tentang "rumah" dan kosmpolitan yang pernah ku pelajari bertahun-tahun lalu, 
Nama-nama itu masih hangat melayang-layang dalam ingatan, Ulf Hannerz, Homi Bhabha.  
Tapi bisakah kata-kata dalam buku mereka membantuku melipat jarak dari balik jendela untuk kita? 
Ah, nyatanya keningku masih berdenyut memikirkanmu.
Saking sibuknya kau bergelayut di kepalaku, hatiku jadi taksa; apakah ini harap, apakah ini cemas, haruskah ku berhenti?


Di negeri indah yang jauh dari rumah, ku akui bisa jadi Sjahrir tak berbohong saat menulis surat untuk Maria Duchateau;
"Apa yang tak kutemukan dalam filsafat, aku temukan pada dirimu." 
Bukankah kita tak perlu banyak menakar dałam merasa? 
Toh, siapa yang dapat menakar dalamnya hati manusia? 

Setelah ini aku bertandang ke kotamu, 
Temui aku di sana. 
Agar ku buktikan pada mereka, kita tak pernah butuh membuka telinga dan mencari pembenaran. 
Aku tak butuh membuktikan apa-apa, denganmu, biarkan aku jadi lugu layaknya terlahir kembali. 
Apa yang ku rasa dan apa yang mungkin kau rasa adalah sebenar-benarnya yang perlu kita menangkan. 

- 2023

Tidak ada komentar:

Posting Komentar